DESA PUTER DULU, SEKARANG, DAN ESOK
Oleh Br. YB. Murtomo Dwi Atmaja, BM.
Kompleks Desa Putera berdiri pada tahun 1947 atas prakarsa dan gagasan Yang Mulia Rama Kanjeng Mgr. Willekens, Perfektur Apostolik Batavia. Beliau adalah Rama Kanjeng yang berjiwa visioner terhadap masa depan Hindia Belanda atau Tanah Nusantara. Hasil-hasil gagasan beliau misalnya imam praja, Tarekat Suster Abdi Dalem Sang Kristus, Bruder Apostelen Leven atau Bruder Rasul. Bahkan pada jaman penjajahan Jepang beliau berani mengangkat diri sebagai wakil Sri Paus untuk menyelamatkan Gereja di bumi Nusantara.
Sesudah perang keadaan Indonesia kacau balau, kemiskinan merajalela. Anak-anak menjadi korban perang dan mereka terpaksa hidup terlantar di jalan-jalan. Peristiwa ini menjadi keprihatinan Rama Kanjeng. Maka beliau kemudian meminta para Bruder Santa Maria Lourdes (Budi Mulia) untuk menangani masalah ini. Tanpa menghitung waktu dan mempertimbangkan segala resiko yang akan ditanggung, pimpinan Bruder Santa Maria Lourdes langsung menanggapi permintaan Rama Kanjeng Willekens. Padahal pada waktu itu
para Bruder sudah memiliki panti asuhan di Bogor. Gedung tersebut sekarang digunakan untuk seminari.
Melalui Perhimpunan Vincentius Jakarta, panti asuhan tersebut berdiri di daerah Lenteng Agung, kurang lebih 25 km dari pusat kota. Hal yang tidak mudah bagi
para bruder tetapi justru di sini rahmat Allah berkarya. Anak-anak jalanan dikumpulkan dengan truk dan dibawa ke panti tersebut tetapi apa yang terjadi malam hari mereka meninggalkan panti dan membawa barang-barang, entah selimut, bantal, atau piring.
Para bruder pendahulu tidak hanya menampung anak-anak tetapi juga member pendidikan dasar akademis yaitu membaca, menulis dan berhitung yang bertempat di suatu ruangan. Inilah cikal bakal sekolah dasar waktu itu masih disebut sekolah rakyat atau terjemahan bebas dari volkschool di panti asuhan Desa Putera. Perhimpunan yang pada waktu itu mengalami masalah finansial untuk menyelenggarakan pendidik menyerahkan pengelolaan karya pendidikan untuk anak-anak panti kepada para bruder. Dalam perkembangan masyarakat sekitar panti asuhan meminta kepada bruder agar anak-anak mereka pun diperbolehkan belajar di sekolah bruder.

Siswa-siswa SD Desa Putera berfoto bersama Bapa Uskup.Paling kiri Bapak Sadono Kepala SD Desa Putera
Karena tenaga guru sangat dibutuhkan pada awal kemerdekaan Republik Indonesia, para bruder menanggapi seruan Bumi Pertiwi dengan mendirikan Sekolah Guru Bantu (SGB) dengan masa pendidikan 4 tahun. Pada tahun 1957 pemerintah menyatakan bahwa guru harus berpendidikan setara dengan universitas dan menutup SGB. 1958 SGB Desa Putera berubah menjadi SMP Desa Putera. 1960 secara resmi yuridis SMP Desa Putera dinyatakan berdiri dengan murid kelas 1, 2, dan 3. Pada tahun 1961 merupakan tahun terakhir SGB.
Bahwa benih yang jatuh ke tanah akan mati tetapi kelak menghasilkan buah yang berlimpah.
Sedangkan SMK Grafika dimulai dengan sekolah teknik (ST) grafika setingkat SMP. Mulai tahun 1970 ST ditutup dan dimulai STM Grafika. Sedangkan percetakan dibangun pertama-tama sebagai tempat praktek siswa-siswa SMK Grafika.
Guru dan karyawan SMP Desa Putera. Bapak Sumadiyono Kepala SMK Grafika ketiga dari kiri.
Anak-anak yang sakitpun diobati di salah satu ruang panti asuhan. Karyawanpun yang sakit juga berobat bahkan keluarga karyawan pun juga ikut berobat. Karena manjur mereka bercerita ke tetangga mereka akibatnya banyak orang yang sakit berduyun-duyun datang ke panti minta untuk diobati. Ruangan yang kecil tidak mampu menampung dan memberi kenyamanan kepada pasien. Maka gedung novisiat berubah fungsi menjadi tempat pengobatan.
Penghuni bruderan komunitas Desa Putera yaitu:
1. Br. Leonardus Sirait, BM. Beliau adalah pimpinan komunitas dan bertugas di Balkesmas Desa Putera dan sebagai pimpinan pabrik lilin Glorieux.
2. Br. Yohanes de Britto, BM. Beliau adalah wakil pimpinan komunitas dan bertugas di SMP Desa Putera.
3. Br. Gerardus, BM. Beliau merupakan ekonom komunitas dan bertugas di percetakan Desa Putera
4. Br. Tarsisius, BM. Bertugas di Panti Asuhan Desa Putera.
5. Br. Konradus, BM. Bertugas di Balai Pengobatan Citayam dan Ciomas.
6. Br. Andreas, BM. Bertugas di SMP Desa Putera.
7. Br. Kristian, BM. Beliau sudah purnakarya namun masih menangani tugas kerasulan doa dan perkebunan percontohan.
8. Br. Paulus, BM. Beliau adalah sesepuh komunitas Desa Putera. Meski sudah purnakarya Bruder Paulus masih setia dengan kerasulan doa terutama Legio Maria. Br. Paulus sekarang adalah bruder yang tertua dalam profesi biara. Dua tahun lalu beliau akan merayakan pesta emas.
9. Br. Gregorius, BM. Beliau bertugas di percetakan sekaligus sebagai pimpinan asrama SMK Grafika.
10. Br. Marselinus, BM. Bertugas di panti asuhan.
11. Br. Agapitus, BM. Bertugas di percetakan.
Meski para bruder penuh kesibukan dengan karya-karya, mereka tidak lupa mendoakan doa Gereja dan terus-menerus hadir dalam perayaan ekaristi harian di Kapel Desa Putera.
Pada tanggal 25 November 2010, para bruder dan seluruh warga kompleks Desa Putera sangat berbahagia karena Bapak Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo berkenan mengunjungi para bruder dan merayakan perayaan ekaristi dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun Bruder Budi Mulia dan karya-karyanya, teristimewa di Kompleks Desa Putera. Kunjungan ini merupakan kunjungan yang kedua. Pada perayaan krisma untuk putera-puteri paroki, Bapak Uskup berkenan sejenak untuk hadir di bruderan.
Sejak pagi hari para bruder sudah bersiap diri. Para siswa berdiri di sepanjang jalan menyambut kedatangan Bapak Uskup. Suatu peristiwa yang jarang terjadi. Perayaan ekaristi dimeriahkan koor Desa Putera Choir yang terdiri dari putera-puteri SMP Desa Putera.

Para Bruder Komunitas Desa Putera bersama Bapak Uskup. Kika Br.Tarsis, Br.Agapitus, Br.Kristian, Br. Paulus, Br.Andreas, Br. Yohanes de Britto, Bapak Uskup, Br. Leonardus, Br. Gerardus, Br. Konradus,Br. Marcel
Kegembiraan dan sukacita kami juga milik anda. Demikian motto para bruder komunitas Desa Putera. Dengan penuh sukacita kami melayani dan melayani sesama sebagai penerus rohani Bapa Stephanus Modestus Glorieux.

Br. Humbertus pernah menjadi anggota Komunitas DP dan mengajar di SMP DP dalam Perayaan 50 Tahun SMP DP.
Kompleks Desa Putera merupakan kompleks yang luas dengan karya yang beragam. Semua yang kami lakukan hanya untuk mewujudkan pilihan kami untuk mengabdi orang miskin sesuai visi Bapa Pendiri.
Dalam mewujudkan opsi tersebut, para bruder bekerja sama dengan pihak-pihak terkait Gereja dan masyarakat.
Sadari Hati…..
Oleh: Cintatya, Siswi Kelas IX SMP Desa Putera
Penyesalan tidak pernah berada di depan, penyesalan selalu terletak di belakang
Menyadari langkah yg salah, ketika terkena rasa sakit yg tak tertahankan.
Begitu juga dengan aku.
Saat berjalan, aku lupa untuk berhenti
Untuk sekedar menoleh ke belakang, memastikan arah yg benar
Atau sekilas menunduk, untuk memastikan tak ada kerikil di jalan ku.
Aku terlalu terpaku oleh cahaya di hadapan ku
Hingga tak pernah terfikir itu hanya kamuflase alam untuk meninabobokan ku
Ketika tersadar, ternyata aku hanya melangkah, berjalan dalam labirin yg tak berujung
Aku harus berhenti. harus…!!!
Perlu keberanian besar untuk melakukannya
Meski kehilangan adalah upahnya
Mencoba berdiam sejenak dalam kalbu yg jujur.
Aku sempat mengenalnya, menghormatinya, mengaguminya, bahkan menyayanginya
Dan itu sudah lebih dari cukup
Aku harus berhenti dan menyimpan apa yg telah aku miliki
Aku tak kan kehilangan apa-apa
Selama dia ada dan bersemayam dalam benakku, entah sampai kapan.
Terima kasih Tuhan….
Kau pernah memberikan yg terbaik bagiku
Dan aku bangga telah mengenalnya……
(Cintatya Vanya Anindia Wisesa)
SMP DP’ IXB






















Now thats sbulte! Great to hear from you.
Thanks for the interesting information. Subscribe to rss
Hingga tahun 2004 tercatat 192 anggota JPL yang bergerak dalam pengembangan dan pelaksanaan pendidikan lingkungan.
Tugas pustakawanlah untuk mendokumentasikan semua pengetahuan publik yang dihasilkan dan menyebarluaskan ke anggota komunitas yang lain.
Hingga tahun 2004 tercatat 192 anggota JPL yang bergerak dalam pengembangan dan pelaksanaan pendidikan lingkungan.